Pages

In The Rain

Kamis, 19 Mei 2016

Judul: In The Rain
Oleh: Adelia Putri Septiani
.
Kelabunya awan menggantung luas di langit, angin-angin yang berhembus juga menghantarkan dingin yang terasa menggigit. Semakin gelap keadaan, makin suram pula wajah Surya. Pemuda itu meringkuk di kursi kayunya, berhadapan langsung dengan jendela yang memerangkap pemandangan kota. Wajahnya cemberut, dengan bibir yang mengerucut.
.
Dan hal yang sedari tadi ia pikirkan terjadi. Derasnya tetesan hujan telah jatuh ke bumi.

Ia bangkit lalu beranjak, menuju kasur dan mengambil selimut tebalnya yang berwarna perak. Ryan kembali ke tempat duduknya, kemudian melingkarkan lembaran tebal yang ia bawa hingga menutupi tubuh dan rambut coklatnya. Sebenarnya bukan hujan yang mengganggunya, melainkan dingin yang selalu turut serta.
Pemandangan kota yang kini terhiasi tirai air terbingkai jelas dalam jendelanya yang tertutup. Suram, apalagi kabut tipis yang mengambang di udara menambah nilai kelam. Namun ada satu hal yang ia herankan. Kemana gadis hujan itu?
.
Tiba-tiba sebuah tawa manis tertangkap telinga, sontak ia menoleh ke sumber suara. Benar saja, gadis itu di sana. Tanpa peduli yang orang lain pikirkan, gadis itu bersepeda dengan riang di tengah aspal jalan, tidak menghiraukan baju birunya yang basah terguyur. Lengkung indah bak pelangi terpatri di bibir merah muda itu, nampak jelas dalam netra Surya walau jarak antara mereka cukup jauh.
.
“Dasar idiot," cela pemuda itu, meski begitu senyum gelinya tidak tertahankan, kerlip bahagia sempat terlintas dari matanya. Manik coklatnya terus saja memperhatikan, hingga akhirnya gadis itu hilang dari pandangan.
.
Enam hari sudah hujan selalu mengguyur sore kota Surabaya, selama itu pula gadis itu lewat dengan sepedanya di depan rumahnya ketika saat itu tiba. Kebiasaan gila memang, malah cenderung ke berbahaya, tapi tidak pernah ada yang memrotes maupun melarang. Entah orang-orang yang terlanjur bersifat apatis terhadap apapun ataukah Surya yang terlalu menghiraukannya.
.
“Ah, sudahlah! Hal yang tidak penting jangan dipikirkan terlalu dalam," tanpa sadar dia menasehati diri sendiri.
.
Dengan mendekap ujung selimut panjangnya yang terseret, pemuda itu kemudian menuju kasurnya, berbaring dan akhirnya mengemuli tubuhnya erat-erat.
.
***
Semacam dengan sore sebelumnya, langit senja kini terselimuti mendung hitam, kali ini lebih mengancam. Mungkin hujan badai yang akan datang.
Telah berkali-kali Surya menggerutu, mengoceh tak jelas, dan tentu saja mengumpat, tapi angkutan umum yang ia tunggu tetap saja tidak kunjung datang, tidak satu pun yang lewat. Kaki jenjangnya telah kesemutan, pun punggungnya sudah pegal menahan beban ransel yang dibawanya. Memang benar mobilnya masih terpakir rapi di garasi, tapi akan sangat tidak etis apabila jarak yang tidak seberapa jauh—tapi bukan juga berjarak dekat— ditempuh dengan kendaraan pribadi. Namun jika tahu hasilnya akan seperti ini, mungkin pemuda itu akan mempertimbangkannya lagi.
.
Beberapa menit kemudian, dia menyerah. Alhasil Surya melangkah perlahan, menapaki jalan ke arah rumahnya, bisa saja nanti dia akan bertemu angkutan umum di lain jalan.
Namun sialnya, baru beberapa meter dia berjalan, air hujan menetes di kepala, awalnya satu-dua, tapi lama-kelamaan makin banyak butir yang mengeroyok tubuhnya. Tergopoh-gopoh pemuda itu kembali ke halte yang sesaat lalu menaunginya. Dilepasnya jaket yang ia pakai, lalu mengibas-ibaskan guna mengusir bulir air yang mengenai, dan Surya baru sadar jika ada orang lain saat suara batuk terdengar. Refleks dia menoleh. Dan fokusnya langsung terperangkap oleh dua mata coklat besar yang indah, milik seorang gadis yang terasa familiar untuknya.
.
Gadis itu masih terbatuk-batuk kecil, menutupi tawanya. Melihat ekspresi kesal pemuda di depannya entah mengapa terasa lucu. Namun gelaknya segera terhenti saat pemuda itu menatapnya tajam.
.
Surya mengalihkan hunusan matanya, menatap curahan hujan deras yang ada di depannnya. Tidak sadar saat ia menghela napas berat. “Kenapa harus hujan lagi?" dengus Surya sebal.
.
"Tidak mensyukuri rahmat Tuhan itu tidak baik."
.
Kaget. Pemuda itu sontak menengok. Gadis itu sudah berdiri di sampingnya, ikut memperhatikan hujan. Surya mendecih.
.
“Memangnya kau sedang buru-buru?"  Tidak ada jawaban. Gadis itu meringis. Apakah ia terlalu sok akrab?
Untuk menutupi kecanggungannya, perempuan itu berdehem. “Jika memang kau buru-buru ...." Dengan paksa tangan Surya terangkat, kemudian sebuah payung lipat jatuh di telapaknya. "Eh?"
.
“Sampai jumpa!" Belum sempat ia bertanya, gadis itu segera berlari, pergi menembus lebatnya hujan senja hari. Surya menganga. Gadis macam apa dia? Bagaimana bisa dia memberikan payungnya kepada orang yang tidak dikenalnya? Mata sipitnya makin melebar saat gadis itu tertawa melihat ekspresinya, tawa itu manis, benar-benar persis dengan si gadis hujan. Atau memang benar? Dan kala perempuan itu tersenyum lebar sembari melangkah riang di tengah guyuran hujan, ia yakin. Dia gadis hujannya.
.
***
Derak kembali terdengar. Surya tidak bisa diam. Berbagai posisi telah ia coba, tapi hasilnya nihil. Pemuda itu tidak bisa tidur.
.
Tawa manis itu kembali bergaung  dalam telinga, berimbas pada jantungnya, yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Apa yang sedang terjadi dengannya? Ini pertama kalinya ia merasa gelisah hanya karena seorang gadis. Tanpa sadar ia melirik ke pojok kamar, tempat payung lipat gadis itu bersandar. “Kuharap besok sore hujan," doanya.
.
Aneh. Tadi dia mengutuk hujan, tapi sekarang meminta.
.
***
Untuk pertama kali dalam hidup, Surya mendengus kepada matahari. Biru tehampar penuh di langit. Titik-titik kecil awan putih berarak perlahan terbawa angin. Hari cerah pertama dalam seminggu terakhir. Bukan seperti harapannya malam tadi.
.
“Hei, kau tidak pulang?" Surya berpaling, tatapannya sengit. Ryo bergidik ngeri. Suasana hati temannya itu tidak dalam keadaan yang baik. "Uh, kau tidak perlu melihatku setajam itu," keluhnya terselip takut.
.
Surya mencebik kesal. Kemudian mengembalikan fokusnya ke cakrawala. Apa gadis hujan itu akan muncul kala hari cerah?
.
Melihat kawannya hanya melamun memandang langit, membuat ia sedikit heran, juga kasihan. Apa ada masalah? Sedikit ragu Ryo mengusulkan, “Bagaimana jika kau pulang bersamaku?"
.
“Tidak," tanpa menoleh ia menjawab, datar. Air wajahnya dingin, tapi kegelisahan jelas memancar dari manik coklatnya. Tujuh hari terbiasa melihat tingkah gila gadis hujannya di penghujung hari, menjadikan ia merasa kehilangan kali ini.
.
Tiba-tiba bunyi klakson mengagetkan keduanya, seorang perempuan kemudian muncul dari mobil asal suara tersebut. Tanpa bisa dicegah Surya berdiri dari kursi taman kampusnya, dan dengan menggebu-gebu berlari menuju gerbang, berbelok tajam dan berhenti tepat di depan perempuan itu, gadis hujannya. Napasnya memburu, jantungnya berdetak cepat, makin liar saat perempuan itu melihatnya dengan mata besarnya yang coklat, tanpa sadar Surya langsung merengkuh tubuh gadis itu.
.
Kerutan dalam tercetak di kening Ryo, jelas bingung. Ada hubungan apa Surya dengan sepupunya, Riani?
.
***
5 minggu kemudian.
.
“Ayo!"
.
“Tidak akan!"
.
"Ayo!" Secara paksa Raini menarik lengan padat pemuda tersebut, membuat tubuh keduanya basah karena guyuran air. Surya berdecak kesal. Dan Riani tertawa senang.
.
Gadis itu melompat, menari-nari, dan berlarian di halaman rumah. Entah apa kata tetangga jika melihat tingkah tolol perempuan cantik itu. “Aku tahu kau tergila-gila dengan hujan, tapi jangan sampai hujan membuatmu gila," kalimat tersebut memang hinaan, tetapi saat Surya mengatakannya dengan sebuah senyuman lebar yang tulus, hal itu terasa seperti pujian bagi Riani.
.
“Aku tidak gila. Hujan membuatku bahagia luar biasa!" ungkapnya tanpa malu, tangannya terentang dengan lengkungan di bibir merah mudanya.
“Hanya karena hujan?" tanya Surya sedikit tidak percaya. Anggukan antusias menjadi jawaban. “Sederhana sekali," komentarnya.
.
“Bahagia itu ... sederhana."
.
Dalam hati Surya menyetujui. Hanya dengan melihat senyum itu, ia juga merasa senang. Kebahagiaan memang benar-benar sederhana. Hanya ketamakan manusialah yang biasanya membuat definisi bahagia itu menjulang tidak tergapai. Tiba-tiba perasaanya gelisah, entah kenapa.
.
“Aku masuk dulu, Rain!" ucapnya, sedikit gemetar dingin. Entah kenapa gadisnya tidak pernah kedinginan saat menikmati hujan, paling parah hanya flu ringan.
.
Tanpa menunggu jawaban, Surya sudah terlebih dahulu menuju teras. Lalu melangkah ke arah dapur guna membuatkan coklat panas untuk mereka berdua, setelah berganti pakaian tentu saja.
.
Namun saat ia kembali, pemuda itu tidak menemukan Raini di manapun. Kemana gadis itu?
.
Brak!
.
Syok. Dua cangkir minuman itu tumpah seketika. Tanpa pikir panjang dia bergegas  ke depan, melewati gerbang yang sudah terbuka, dan mendapati kejadian mengerikan di hadapannya. Riani tergeletak tidak berdaya, mengenaskan dalam kubangan darah dan air hujan kesukaannya. Mobil yang telah menabrakanya sudah melarikan diri entah kemana.
.
Surya menderap maju, kemudian berlutut. Dengan hati-hati ia meletakkan kepala gadisnya di pangkuan, mengelus rambutnya yang basah, dan mendekapnya.
.
“Tolong!"
.
***
Persis orang linglung, Surya sedari tadi hanya mondar-mandir tidak jelas. Genggamannya terkepal erat, siap mengahantam apa saja yang mengusiknya, dan dinding adalah pelampiasannya. Asin kesedihan bernama air mata jatuh di pipinya. Ini salahnya.
.
Ryo dan keluarganya menunggu dengan cemas, menanti-nanti hasil yang sangat diharapkan, kendati hal itu sangat kecil kemungkinan.
.
Detik demi detik terasa sesak dan mencekik. Namun waktu terus berjalan, tidak ada yang dapat berkutik.
Lampu merah menyala. Semua berdiri, menyongsong dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi. “Maaf, kami sudah berusaha semampu kami."
.
Seperti yang diduga, tapi tidak pernah diharapkan. Operasi gagal. Raini, si gadis hujan tidak terselamatkan.
.
***
Senja suram. Gumpalan hitam mengambang ancam di cakrawala yang sarat kegelapan. Petir menggelegar, menggetarkan tiap-tiap jiwa yang kesepian. Entahlah, langit mengamuk atau bersedih.
.
Angin dingin tidak diacuhkan. Surya tetap bergeming dalam kebungkaman. Kristal beningnya sekarang terasa kering kerontang. Tidak ada lagi yang tersisa.
.
Jemari-jemari panjangnya mengusap batu nisan di dekapannya. Raini Putri Oktavia. Sekali lagi ia mengelus nama itu.
.
Tidak ada lagi siapapun di makam ini selain dirinya, mayat tak bernyawa, dan bisikan lembut angin penuh akan  kesedihan. Di genggamannya telah terdapat kertas putih bernoda tanah, sebuah surat dari gadis hujannya,
Ryo yang memberikannya tadi saat pemakaman baru saja usai. Dua kalimat tertulis di sana.
.
Surya, kau adalah kehangatan dalam dinginnya hujanku.
Matahariku, aku mencintaimu.
.
Kenapa cinta pertamanya harus berakhir seperti ini? Surya berusaha terlihat tegar, tapi tetap saja, hatinya telah rapuh.
.
"Rain, kau kesejukan dalam panasnya matahariku. Gadis hujanku, aku juga mencintaimu."
.
Tamat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOG TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS